Perdebatan mengenai teori kenabian di tengah-tengah masyarakat kini kembali marak. Tak jarang perdebatan wacana ini menarik umat muslim kepada tindak menghakimi atas dasar teologis (pengkafiran) dan tak jarang yang berujung pada tindakan fisik seperti kasus Ahamadiyah di Indonesia beberapa waktu yang lalu. Serta kontroversi Ahmad Mosaddeq pemimpin aliran Al Qiyadah Al Islamiyah yang mencuat akhir ini.
Sejarah mencatat setidaknya ada beberapa individu yang mendeklarasikan diri sebagai seorang nabi atau pun rasul. Dalam sejarah islam kita mengenal sosok pemimipin agama yang mengklaim dirinya sebagai nabi. Misalnya Mirza Ghulam Ahmad seorang Pakistan pendiri gerakan Ahmadiyah yang dianggap oleh para pengikutnya adalah sebagau juru selamat, penjelmaan Krishna. Walaupun Ahmadiah masih percaya pada Al Quran dan Rasul yang sama sepertinya Ahmadiyah memiliki konsep kenabian yang berbeda yang menyebutkan bahwa bahwa kenabian tidaklah berakhir dengan Nabi Muhammad. Kenabian terus berlangsung, meski tidak membawa syariat baru. Peryataan inilah yang memicu amuk massa muslim Indonesia dengan merusak tempat peribadatan warga Ahmadiyah dan menghakimi pengikutnya. Terdapat pula agama Baha’I yang agak sedikit berbeda yang disebut-sebut sebagai agama post-syi’ah yang melakukakan singkretisasi eklektik terhadap ajaran-ajaran agama lain dengan tekanan pada universalisme dan humanisme.
Tradisi kenabian ini tidak hanya muncul di islam. Tokoh keagamaan Amerika, Joseph Smith, pendiri gereja Yesus Kristus Letter-day Saints (Gereja Mormon) menyebut dirinya dan para pengikutnya sebagai nabi dan rasul sekaligus. Beliau mengaku telah menerima wahyu tuhan di Palmyra, New York pada 1822, melalui malaikat ayang bernama Moroni.
Pada dasarnya agama Kristen tidak terlalu menaruh perhatian besar terhadap tema kenabian ini tidak seserius islam dan yahudi. Salah satu tokoh Yahudi yang menarik perhatian adalah Maimonedes atau Musa bin Maimun. Seorang filosof Yahudi yang hidup sejaman dengan Ibn Rusyd ini berpendapat bahwa puncak kenabian sesungguhnya adalah Musa. Setelah itu tidak ada lagi Nabi, kecuali kenabian-kenabian minor. Kenabian minor, adalah kenabian yang muncul sebagai repetisi atau paling jauh penyempurna terhadap sebelumnya. Ia tidak sepenuhnya hadir dengan ajaran baru. Jadi Isa, Muhammad, serta Nabi-Nabi setelah Musa, dalam perspektif Maimonides hanya mengulang atau menegaskan ajaran yang telah dibawa Musa. Dan kenabian minor dalam pandangan Maimonedes ini bisa dicapai oleh siapa saja. Artinya, fenomena kenabian itu masih terus berlanjut dan siapapun bisa menjadi Nabi.
Dalam sejarah islam terdapat dua kubu yang mengintepretasikan wacana ini. Kubu pertama adalah kaum ortodoks yang mengatakan bahwa kenabian adalah ajaran suci tuhan yang mutlak kebenarannya karena bersumber dari wahyu tuhan (pandangan ini banyak direpresentasikan para teolog sunni). Di kubu sebaliknya yakni kaum heterodoks yang banyak disuarakan oleh para filsuf yang menyatakan bahwa kenabian sesungguhnya merupakan keniscayaan dalam kehidupan implikasinya adalah kesimpulan bahwa nabi ajaran kenabian adalah ajaran manusia biasa saja. Ia bisa punya nilai kebenaran, tapi juga dimungkinkan adanya kekurangan. Karena meski sumber kenabian itu mempunyai hubungan dengan Yang Di Atas, yaitu Tuhan, tetapi ia sebenarnya juga bersumber dari bawah, yaitu masyarakat.
Di Indonesia sayangnya tema ini tidak menjadi diskursus pemikiran yang dikaji dengan serius. Mungkin saya bisa mengatakan kajian wacana ini terhenti di tangan Fazlur Rahman dan beberapa waktu yang lalu mulai di wacanakan kembali oleh mas Ulil Abshar. Akibatnya fenomena kemunculan nabi baru yang marak terjadi belakangan ini disikapi secara emosional dan kekanak-kanakan tanpa landasan teoritis yang jelas sehingga menarik masyarakat untuk menghakimi secara masssal.
Yang terjadi pada kasus ahmadiyah dan al qiyadah al Islamiyah -dan beberapa juga menyebutkan komunitas eden adalah contoh kasus yang menarik yang dapat kita lihat di negri ini. Bagaimana mereka memiliki cara pandang yang berbeda dengan arus utama keyakinan yang dimiliki masyarakat umum. Paham kenabian yang mereka pahami selaras dengan paham kenabian kaum heterodoks yang menganggap tidak ada nabi penutup jaman sehingga penunjukannya terus hadir hingga saat ini. Karena dianggap “mengganggu” dan menyinggung dasar ajaran agama yang mapan maka kelompok dengan pemahaman seperti ini langsung diberangus atas komando mesin tempur agama (baca:MUI) tanpa mau berdialog secara sehat.
Perbedaan penafsiran keagamaan adalah keniscayaan sejarah yang tak bisa dihindarkan. Baik itu dalam persoalan “furu’iyyah” atau cabang, juga dalam hal-hal yang sifatnya “ushuliyyah”. Kerena sejak dahulu umat Islam berbeda pemahaman tentang akidah.( Asy Syahrastani). Maka dari itu menyikapi hal yang demikian janganlah terlalu berlebihan. Memang di satu sisi umat islam terusik adanya pemahaman yang jelas berbeda dengan mainstream pemikiran ulama yang ada, namun pengkafiran umat dengan pemahaman yang berbeda tentunya bukan merupakan hak kita, karena hanya Tuhan lah yang capable dengan tugas itu.
Perbedaan adalah hal yang biasa. Hal tersebut sangat lumrah terjadi di masyarakat yang dengan kebebasan berfikir seperti Indonesia hari ini. Menundukan ego dan emosi dan bersikap terbuka untuk mendialogkan perbedaan yang ada nampaknya menjadi salah satu opsi bijak kita dalam merespon perbedaan tersebut. Bukan dengan pengerahan massa dan pedang yang terhunus. Jika hal tersebut terus terjadi sampai kapanpun bangsa ini akan terus dipenuhi dengan masyarakat bar-bar berkedok islam.
menarik sekali apa yang di ceritakan rooy akbar,
kalo bisa lebih dijelaskan penyebab orang-orang yang mengaku nabi itu menjadi seperti itu dan mengapa faktanya di Indonesia banyak sekali yang tertarik menjadi Pengikut-pengikut ajaran tersebut. dan bila ingin dijelaskan bisakah dijelaskan dari berbagai sudut pandang baik dari pemerintah Indonesia sendiri, masyarakatnya, dan pengikut ajaran itu sendiri, terima kasih.
sebenarnya ada beberapa hal yang ingin saya tahu tentang keagamaan. saya ingin mengetahui lebih jelas mengenai NU dan Muhammadiyah. Apa itu NU? apa itu Muhammadiyah? dan kalo boleh tau Roby sendiri lebih condong kemana atau tidak keduanya? thanks..
Oleh: hqm on Januari 8, 2008
at 12:10 am