…..neoliberalisme ingin mengubah dunia menjadi sebuah pusat perbelanjaan raksasa, dimana para penguasa membeli segalanya, mulai dari orang Indian, perempuan, tenaga buruh dan kedaulatan Negara.
(subcommandante Marcos, salah satu pimpunan gerakan Zapatista di mexico)
Tulisan ini akan membahas wacana globalisasi dalam kaitanya dengan peranan pekerja sosial hari ini. Tulisan ini secara singkat namun tetap mencoba melihat secara komprehensif mengenai wacana globalisasi yang semakin meluas dan bermuara pada intensi pemupukan kapital oleh segelintir orang dan Negara. Pandangan bahwa pekerja sosial dapat berperan serta dalam merespon masalah pada tingkat global ini sejalan dengan paradigma baru pekerjaan sosial yang tidak melulu berwajah yang disebutkan Edi Suharto reaktif-simptomatif , namun dapat menangani masalah sosial sebagai akibat dari logika globalisasi serta dapat “bermain” di tataran kebijakan sosial global.
GLOBALISASI
Kini umat manusia telah masuk dalam sebuah tata dunia baru dimana batas-batas Negara menjadi sangat kasat mata dan tidak ada nilainya sama sekali. Sebuah tata dunia yang menjadi keniscayaan sejarah yang terakhir ini disebut oleh seoreng ilmuan sosial Francis fukuyama sebagai “the end of history” keniscayaan sejarah yang telah merubah dunia menjadi desa global itu bernama globalisasi.
Istilah globalisasi mengacu kepada kepada makin menyatunya unit-unit ekonomi di dunia ke dalam satu unit ekonomi dunia. Secara nyata kita dapat melihat dampak besar dari globalisasi ini, kemajuan teknologi dan informasi yang pesat, aktivitas perdagangan dunia yang bergerak dinamis, pendapatan Negara yang terus merangkak naik adalah cermin nyata dari praktik globalisasi yang diterapkan di dunia ini. Bahkan dalam beberapa data menyebutkan bahwa globalisasi memberikan ekses positif bagi penurunan jumlah penduduk miskin di dunia. Data UNDP tahun 2002:13 menyebutkan jumlah penduduk dunia yang yang hidup dalam kemiskinan absolute menurun dari 29 persen di tahun 1990 menjadi 23 persen pada tahun 1999. Angka partisipasi Sekolah Dasar juga meningkat dari 80 persen (1990) menjadi 84 persen (1998). Sejak tahun 1990, sekitar 800 juta dan 750 juta orang telah memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi.
Data tersebut diperkuat dengan oleh ICC (international Chamber of commerce) sebuah organisasi bisnis dunia yang mengatakan bahwa globalisasi membuat siapapun yang berpartisipasi di alamnya menjadi lebih kaya. Lembaga ini mengeluarkan beberapa bukti data yang melegitimasi argumennya. ICC menyebutkan beberapa Negara, khususnya di asia, telah memperkecil jurang antara mereka dan Negara-negara maju. Setelah diserang badai krisis finansial pada tahun 1997 dan 1998, asia bangkit dengan cepat dengan pertumbuhan GDP 6 persen (1999) dan 6,2 persen (2000), dibandingkan pertumbuhan ekonomi Negara-negara maju pada tahun yang sama, jelas Asia mencatat prestasi yang sangat gemilang.
Mengenai taraf hidup penduduk dunia ICC mengatakan bahwa globalisasi telah mengurangi kemiskinan secara signifikan. Jumlah mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan absolut (1 dolar per orang per hari) menurun dari 28,3 persen di tahu 1987 menjadi 24 persen di tahun 1998.
Data-data diatas yang menunjukan kehebatan globalisasi dalam mensejahterakan penduduk dunia tampaknya membuat kita terkesan dan cendrung mengamini praktek globalisasi. Terlepas dari kecacatan metodologis yang digunakan dalam mengumpulkan data dan penarikan asumsi dari deretan angka-angka diatas, nampaknya kita harus menyadari benar system yang sering di sebut-sebut system neoliberalisme ini juga telah membawa penderitaan baru dan belum pernah terjadi sebelumnya didunia.
Kondisi kemajuan akibat penerapan system ini ternyata hanya di alami oleh Negara-negara maju, sedangkan di Negara berkembang dampak ini sama sekali tidak dirasakan dan bahkan semakin terbelakang. Ini lebih disebabkan oleh konsekuensi kerja yang dilakukan oleh lembaga-lembaga keuangan internasional yang pada awalnya dibentuk untuk memajukan doktrin akumulasi modal serta memperkuat sector usaha di Amerika dan inggris sebagai respun dari ancaman naiknya gerakan rakyat dan Uni Soviet yang berkuasa di eropa barat. Lembaga ini dikenal dengan dengan sebutan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.
Lembaga-lembaga ini yang menjadi tangan-tangan penjajah gaya baru dalam menerapkan kebijakan penyesuaian structural yaitu penyusuaian perekonomian sebuah Negara dengan logika akumulasi modal dan memberikan keleluasaan pihak swasta terutama perusahaan transnasional (MNC dan TNC) untuk menikmati keuntungan dari Negara yang menerima pinjaman dari lembaga ini, dan sebagian besar peminjam “dana pembangunan” ini adalah Negara-negara berkembang yang sedang menggenjot pertumbuhan ekonominya. sialnya negri ini termasuk peminjam hutang lembaga tersebut!. Invasi ekonomi ini bukan hanya terjadi secara sukarela lebih dari itu langkah penggulingan kekuasaan, menculik, membunuh elit penguasa yang memilih jalan pembangunan yang berbeda seperti kasus Mozambique, Angola dan Nikaragua sampai embargo total yang dialami Kuba.
Dari sinilah bencana globalisasi menjadi logis terjadi di Negara-negara berkembang. Data berikut ini sebenarnya sudah banyak dikutip, namun mungkin kita dapat melihatnya bersama. Antara tahun 1990 dan 1997 selisih pendapatan antara seperlima penduduk paling miskin dan yang paling kaya didunia ini telah berlipat lebih dari dua kali. Pada akhir 1990 seperlima penduduk yang paling kaya itu menguasai 86 persen kemakmuran dunia, sementara seperlima yang paling miskin hanya mengais-ngais 1 persenya!. Kini angka itu sudah menjadi 88 persen dan 0,85 persen.
Ketimpangan yang terjadi bukan akibat dari proses alamiah dari sebuah kehidupan yang bebas nilai. Siapa yang dapat menjelaskan proses alamiah ketimpangan pendapatan gaji seorang CEO Disney Michael Eisner yang sama dengan upah 100.000 buruh Haiti yang memproduksi boneka dan pakaian Disney, pendapatanya dalam sehari setara dengan upah seorang buruh selama 166 tahun. Ini adalah sebuah keputusan ekonomi politik yang sudah tidak dapat di tawar-tawar lagi, atau dalam istilah pembela globalisasi There is no Alternative (TINA).
Sudah tak terhitung berapa jumlah negara yang jadi korban neoliberalisme, Indonesia salah satunya, dalam posisi yang lemah, satu per satu sektor-sektor publik yang semula diurus negara dilucuti dan diserahkan kepada mekanisme pasar, seperti sektor pangan, migas, listrik, BUMN, pendidikan, dan kini akan menyusul air
Jelaslah, secara internasional memburuknya permasalahan sosial global bermuara pada globalisasi. Melebarnya kesenjangan sosial-ekonomi antara negara maju dan berkembang, meningkatnya ketergantungan negara berkembang terhadap negara maju, serta menguatnya dominasi negara kapitalis atas faktor-faktor produksi negara berkembang telah melahirkan dan bahkan memperparah tragedi kemanusiaan. Selain itu, melemahnya peran negara dalam pembangunan ekonomi pada gilirannya akan disusul dengan melemahnya peran negara dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Sebagaimana terjadi di banyak negara berkembang, melemahnya peran negara ini seringkali menjadi pemicu disintegrasi sosial dan munculnya permasalahan sosial “lokal”.
Dimana Pekerja Sosial?
Pekerjaan sosial sebagai profesi kemanusiaan yang digerakkan oleh ilmu, teknologi dan etika pertolongan harus menyadari bahwa globalisasi adalah keniscayaan sejarah yang tidak dapat dipungkiri eksistensinya. Namun, karena globalisasi ini tidak bebas nilai, ia memuat hidden agendas yang dapat membahayakan kehidupan umat manusia. Pekerja sosial perlu waspada terhadap isu-isu yang ditawarkan globalisasi. Isu-isu seperti liberalisasi perdagangan, investasi dunia, HAM, lingkungan hidup, hak paten, dan bahkan terma-terma akademis seperti demokratisasi, community empowerment, local participation, indigenous culture, tidak jarang digunakan sebagi “kemasan logis” neoliberalisme agar “jebakan-jebakan kepentingan” dapat menebar dengan masuk akal dan leluasa. Diharapkan ekonomi dunia tetap berada di bawah kendali kelas kapitalis internasional. Melalui kesadaran ini, maka fokus pekerjaan sosial hendaknya tidak hanya diarahkan untuk menanggulangi permasalahan sosial global yang diakibatkan globalisasi. Melainkan pula, dan ini yang lebih penting, harus diarahkan pada usaha perlawanan terhadap agenda-agenda globalisasi, termasuk kepada neoliberalisme sebagai ideologi yang menjadi ruh globalisasi.
Banyak peran yang dapat dilakukan pekerja sosial dalam merespon efek globalisasi beserta berbagai macam turunannya. Sepengetahuan penulis setidaknya dapat kita klasifikasikan peran pekerja sosial dalam penanganan masalah sosial yang diakibatkan oleh proses globalisasi menjadi peran langsung dan tidak langsung.
Secara langsung, peran pekerja sosial adalah turut menangani masalah-masalah sosial internasional yang diakibatkan globalisasi, seperti pengungsi, konflik, perdagangan manusia, HIV/AIDS, dll. Peranan pekerja sosial yang lebih bernuansa direct practitioner, seperti konselor, fasilitator, pemberdaya, pembela, broker, dan mediator masih tetap relevan dalam konteks ini.
Secara tidak langsung, dan peran inilah yang menurut penulis sangat relevan dan efektif dilakukan dalam membendung jerat kapital di negri ini yaitu lebih diarahkan kepada keterlibatan dalam analisis dan perancangan kebijakan sosial internasional. Sejumlah ahli, seperti Gosta Esping-Andersen (1996), Ramesh Mishra (1999), Bob Deacon (2000) sudah lama mengusulkan soal international social policy ini. Aktivis dan analis kebijakan sosial adalah dua peranan penting dalam skenario ini yang intinya difokuskan pada perlawanan terhadap globalisasi dan neoliberalisme.
Langkah kongkrit yang dapat dilakukan adalah meliputi dua upaya yaitu pertama, mengubah aturan main globalisasi menjadi labih inklusif (artinya juga lebih mneguntungkan) Negara-negara berkembang, syarat utamanya mambuang pendekatan ‘satu aturan untuk semua’ untuk mendorong kemampuan semua Negara berkembang berpertisipasi dalam pembuatan aturan main serta perkerja sosial dapat berperan dalam kerjasama antar Negara yang kerjasama ini difokuskan kepada upaya mencari jalan keluar dari dampak problem ketimpangan yang terjadi selama ini. Upaya yang kedua adalah Perumusan dan penetapan norma dan standar-standar mengenai hak-hak sosial internasional yang mengarah pada terciptanya sebuah tatanan dunia yang lebih baik; yang saling memerlukan, saling bersahabat, saling memajukan dan mensejahterakan dalam keharmonisan, kedamaian, dan kesetaraan.
Dalam pratiknya tentu upaya ini tentunya akan menemui berbagai macam hambatan seiring dengan kelemahan yang dimiliki pekerja sosial itu sendiri serta berbagai factor eksternal seperti tekanan politik dan resiko pribadi. Itulah yang menjadi pekerjaan rumah kita semua untuk terus bersikap professional, kreatif dan inovatif dalam memecahkan masalah sosial global
Penutup
Nampaknya kita harus berani keluar dari debat klise pro atau kontra globalisasi karena menurut hemat penulis sudah tidak lagi relevan. Sebaliknya, justru menjadi tantangan untuk memanfaatkan sebesar-besarnya aspek positif globalisasi (apapun itu) demi pembangunan yang lebih merata dan mengurangi kemiskinan. Melalui kewirausahaan sosial mungkin?
Kebenaran hanya milik Tuhan
Roby Akbar Sarah
nama saya diky girsang,
saya ingin mengetahui lebih jelas bagaimana sejarah nya pekerjaan sosial, prinsip pekerjaan sosial, dan apa yang mendorong terbentuknya pekerjaan sosial tersebut. terima kasih
Oleh: diky on Agustus 20, 2008
at 1:30 pm
Salam Kesejahteraan
berbicara ttg Pekerja Sosial, pasti tidak luput dari Seorang yang berlatar pendidikan Ilmu Kesejahteraan Sosial, bukan?
tapi apa yang terjadi sekarang ini. apa lagi dalam kaitannya Terhadap GLOBALISASI yang tidak lain, tidak bukan pasti selalu membahas masalah HAM dan segala sesuatu yang berkaitan dengan itu. Apa ya peran seorang PekSos (singkatan untuk seorang Pekerja Sosial pada waktu Zaman kuliah dulu), pasti banyak dan tidak terlakukan karena seakan-akan Alumni dari Jurusan/ Departement tersebut kurang dikenal dan tidak memiliki standar sebagai suatu profesi.
Oleh: Hermansa Sigalingging on Oktober 9, 2008
at 6:33 am
sudah semestinya apabila peran pekerja sosial mulai disejajarkan dengan profesi-profesi lain yang telah berakar di tengah masyarakat, seperti dokter, bidan pengacara, dokter, psikiater dan lain-lain.
sedangkan profesi pekerja sosial nampaknya masih jauh tertinggal di belakang, bagaimana ini untuk mensejajarkan dengan profesai lain. apa salahnya, di mana letak kelemahannya sehingga profesi peksos ini bisa cepat terangklat ke atas sehingga bisa sejajar dengan profesi lain.
cobalah para pakar peksos itu menengok ke negara-negara barat yang sudah cukup sukses mengangkat Peksos, sebagaimana yang diberitakan di media-media tentang kesuksesan Peksos di tengah-tengah masyarakat global, semoga !
Oleh: Muh Abu Thoyib on Januari 28, 2009
at 8:07 am